1. HAJAT BUMI

Adanya perkawinan dua unsur, yakni adat dan agama, seperti yang dikatakan dua sumber yang ditemukan, membuktikan adanya reproduksi kebudayaan (reproduksi kultural), yakni proses melakukan kembali upaya produksi atas kebudayaan.
Upacara atau ritual hajat bumi ini adalah hasil dari reproduksi kebudayaan, dimana telah terjadi produksi ulang dari kebudayaan terdahulu, dan produksi ini berlangsung pada tahap makna, artinya ornamen-ornamen dalam ritual mengalami pergeseran makna, bukan bentuk.
Pada sisi lain, pada dasarnya terjadi dinamika tersendiri dalam masyarakat, dimana ada resistensi yang sangat rentan kearah pengguguran nilai sekaligus bentuk. Disatu sisi masyarakat masih berkehendak untuk mempertahankan ritual hajat bumi, namun disisi lain, kepercayaan agama menjadi persoalan lain, dimana dalam ajaran Islam tidak dibenarkan yang namanya anisme dan dinamisme. Hingga akhirnya, masyarakat memilih mengambil jalan tengah dengan tetap melaksanakan ritual hajat bumi dengan bentuk aslinya, namun ada nilai atau makna-makna yang dirubah. Upacara hajat bumi tidak lagi semata-mata ditujukan kepada para leluhur, atau meminta keberkahan kepada leluhur, tapi diarahkan tetap kepada ajaran Islam yakni meminta kepada Tuhan YME.
2. UPACARA NYALIN
Upacara Nyalin merupakan rangkaian upacara ritual yang masih dilaksanakan sebagian kecil para petani. nyalin asal kata dari salin yang artinya mengganti oleh karena tiu upacara ini dilaksanakan ketika tanaman hendak dipanen dan akan diganti dengan tanaman yang baru, upacara ini dilaksanakan satu tahun satu kali dan dilaksanakan secara individu.
untuk menentukan hari H biasanya yang punya hajat terlebih dahulu meminta kepada guguni, upacara ini biasa dilaksanakan sekitar jam 16.00 s.d jam 17.00. adapun tempatnya di areal tanaman yang hendak dipanen.
3. UPACARA NGANYARAN
Nganyaran asal kata dari anyar, artinya baru. oleh karena itu upacara ini dilaksanakan setelah selesai panen dan diselenggarakan secara individu, adapun maksud upacara ini bagi yang meyakininya sebagai penghormatan kepada dewi sri bahwa hasil panennya akan segera dinikmati. upacara ini merupakan acara ritual petani di dalam bercocok tanam.
upacara ini biasanya dilaksanakan setelah 3,5,7 hari setelah panen tergantung situasi dan kondisi, tempat upacaranya di pendaringan/ goah (kamar khusus tempat menyipan beras) adapun waktunya sekitar jam 16.00 s.d jam 17.00 tergantung kebiasaan makan keluarga petani tersebut.
4. UPACARA TRADISIONAL NADRAN
Nadran adalah upacara tradisional pesta laut yang masih diselenggarakan masyarakat nelayan desa sungai buntu kecamatan pedes kabupaten karawang. mereka menyebutnya kaulaun atau syukuran.
sebenarnya, sebutan upacara pesta laut atau nadran dalam agama islam disebut nadar tapi kemudian timbul dialek masyarakat nelayan menjadi nadran dan nyadran.
tujuan diselenggarakannya upacara ini adalah sebagai ungkapan rasa syukur para nelayan atas hasil ikan yang diperoleh, dan memohon agar pada masa yang akan datang mendapat hasil yang berlimpah. selain itu upacara nadran dimaksudkan untuk memohon keselamatan para nelayan dari gangguan penguasa laut. upacara nadran ini dilaksanakan karena diantara para nelayan terdapat kepercayaan yang menyatakan bahwa jika mereka tidak melaksanakannya, akan terkena musibah.

Tinggalkan Komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini